RONGGOHADI, LAMONGAN—Musim hujan kembali membawa PR lama bagi Pemerintah Kabupaten Lamongan: Banjir Perkotaan. Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya (Perkim) Lamongan langsung turun meninjau lokasi langganan banjir, seperti di Kelurahan Telogoanyar, di mana genangan air masih terlihat di Jalan Andanwangi dan teras rumah warga.
M. Fahrudin Ali Fikri, Kepala Dinas Perkim Cipta Karya Lamongan, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeliharaan rutin drainase jauh sebelum puncak musim hujan. Namun, masalah banjir Lamongan terletak pada karakter geografis kota itu sendiri.
Geografis Cekungan: “Harus diketahui wilayah kita ini bukan gunung yang bisa cepat mengalir, Lamongan kota ini dataran cekungan relatif rendah, jadi genangan cukup lama mengalir karena debit air yang besar,” tutur Fahrudin.
Kunci Solusi: Kecepatan Aliran ke Saluran Primer!
Menurut Fahrudin, kunci penanganan banjir adalah bagaimana air hujan dapat dialirkan dengan cepat ke saluran-saluran primer atau kolam retensi seperti Kali Veteran, Kali Kinameng, dan Telogo Peno.
Meski saluran sudah dibersihkan rutin, tantangan terbesar adalah: Endapan Lumpur!
Fahrudin Ali Fikri: “Kondisi selokan sudah bagus, cuma saya kira, kita harus terus melakukan pengerukan dan pembersihan karena banyak endapan lumpur.”
Kendala Teknis Anti-Mainstream: Jargas dan Instalasi Air
Namun, niat baik untuk mengeruk drainase secara masif terbentur kendala teknis yang serius. Proses penggalian dan pengerukan lumpur harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena banyaknya jaringan gas (Jargas) dan instalasi air bersih yang tertanam di bawah drainase.
Kendala Pengerukan: “Tapi untuk menggali itu banyak pertimbangan karena dalam drainase banyak instalasi air hingga jaringan gas. Kendalanya kita itu crosing jalan juga banyak rendah,” urai Fahrudin.
Sementara itu, dari sisi Dinas PU Sumber Daya Air (SDA), Saiku (Kabid Operasi dan Pemeliharaan) menambahkan bahwa drainase kota memiliki kemampuan serap air yang minim. Pihaknya fokus memastikan saluran primer tidak terhambat, terutama oleh sampah di jalan nasional, yang mengurangi kecepatan pembuangan air.
Kolaborasi intensif antara Dinas Perkim dan Dinas PU SDA menjadi harapan tunggal agar Lamongan Kota terbebas dari genangan air yang menghambat mobilitas warga. (rm)



