RONGGOHADI, LAMONGAN—Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor perikanan umum darat (PUD) Lamongan. Hingga triwulan ketiga (Semester III) tahun ini, realisasi produksi ikan tercatat mengalami penurunan tipis namun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data dari Dinas Perikanan Lamongan menunjukkan produksi ikan pada PUD hanya mencapai 2.831 ton, sedikit menurun dari 2.846 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Air Keruh = Hilangnya Rezeki Ikan
Hendro Setyo Budi, Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Lamongan, blak-blakan menyebut cuaca ekstrem dan kondisi air menjadi biang keladinya. Perikanan umum darat Lamongan yang memanfaatkan sungai dan waduk sangat rentan terhadap perubahan kondisi air.
“Kalau air naik, nelayan tidak berangkat. Apalagi, sebelumnya hujan terus. Ini sangat pengaruh, nelayan banyak pindah mata pencarian,” klaim Hendro.
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan air Bengawan dan waduk menjadi keruh. Kondisi air keruh secara otomatis membuat ikan (seperti nila, tawes, tombro, dan patin) sulit ditangkap menggunakan alat tradisional seperti jaring dan pancing.
Kasus Kakap Putih: Keruhnya Air Menggagalkan Panen Spesial
Dampak terburuk dirasakan pada komoditas unggulan spesifik. Hendro mencontohkan kasus Kakap Putih di wilayah Glagah.
“Biasanya kakap putih di Glagah. Lha kemarin keruh, biasanya air bening, musim bulan Juli – Agustus. Itu musim kakap putih, kemarin masih ada hujan, akhirnya tidak maksimal,” ujarnya.
Musim panen Kakap Putih yang seharusnya terjadi pada Juli hingga Agustus harus gagal total karena air yang terus-menerus keruh akibat hujan yang tak terduga. Situasi ini memicu keprihatinan serius, di mana para nelayan terpaksa mencari mata pencaharian alternatif sementara waktu. Ini adalah alarm bahwa sektor perikanan Lamongan membutuhkan strategi adaptasi yang lebih kuat terhadap tantangan perubahan iklim di masa mendatang. (rm)



