RONGGOHADI, LAMONGAN — Pesisir utara Lamongan yang biasanya hiruk-pikuk dengan aroma khas ikan segar dan deru mesin kapal, kini berubah sunyi. Bukan karena ikan yang menghilang, melainkan karena alam sedang “marah”. Sejak pertengahan Desember hingga Januari 2026 ini, Angin Barat membawa pesan horor berupa gelombang tinggi dan angin kencang yang memaksa para ksatria laut untuk “parkir massal” di dermaga.
Pantauan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong menunjukkan pemandangan yang tak biasa. Dermaga penuh sesak oleh kapal-kapal yang tertambat rapat, sementara aktivitas pelelangan terlihat lengang bin sepi.
Taruhan Nyawa di Balik Gelombang: “Lebih Baik Menepi daripada Mati”
Sekretaris Dinas Perikanan Lamongan, Margono Jaya Putra, yang turun langsung ke lapangan mengonfirmasi bahwa nyali nelayan bukan ciut, melainkan realistis. Faktor keselamatan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
“Memang sepi. Banyak nelayan tidak berani melaut akibat angin kencang dan ombak besar. Kalau kapal kondisinya tidak prima, risikonya bisa pecah dihantam ombak di tengah laut,” ujar Margono dengan nada serius, Senin (19/1/2026).
Mirisnya, dari ratusan armada, hanya ada satu atau dua kapal besar yang nekat menerjang badai. Sisanya? Memilih bersabar sambil memperbaiki jaring di daratan.
Rapor Perikanan Tangkap Lamongan: Antara Target dan Realitas Alam
Meskipun saat ini sedang “libur” melaut, catatan prestasi nelayan Lamongan di tahun sebelumnya patut diacungi jempol. Berikut adalah data kekuatan produksi perikanan tangkap Bumi Wali:
| Kategori Data | Capaian Tahun 2025 | Status |
| Target Produksi | 78.814 Ton | – |
| Realisasi Produksi | 79.685,22 Ton | MELAMPAUI TARGET! |
| Prediksi Masa Melaut | Februari 2026 | Menunggu Cuaca Stabil |
Suara Hati Nelayan: Menanti Februari yang Bersahabat
Keresahan yang sama juga dirasakan di wilayah Blimbing. Ketua Rukun Nelayan (RN) Blimbing, Nur Wakhid, menyebutkan bahwa musim angin barat kali ini benar-benar menguji kesabaran. Arus laut yang deras membuat alat tangkap sulit dikendalikan, sehingga melaut pun menjadi sia-sia.
“Seluruh nelayan di Blimbing memilih libur. Kondisi ini sudah terjadi sejak pertengahan Desember. Perkiraan kami, paling cepat baru bisa melaut lagi awal atau pertengahan Februari nanti,” kata Nur Wakhid.
Analisis Penulis: Optimisme di Tengah Badai
Walaupun Januari ini pasokan ikan menurun drastis, optimisme Dinas Perikanan Lamongan tetap tinggi. Keberhasilan melampaui target di 2025 menjadi bukti bahwa saat cuaca bersahabat, nelayan Lamongan adalah mesin ekonomi yang luar biasa. Namun, Margono mengingatkan bahwa “Manusia berencana, Alam yang menentukan.” Target 2026 tidak akan dipaksakan jika taruhannya adalah nyawa para nelayan. (rm)



