RONGGOHADI, LAMONGAN — Kalau biasanya santri sibuk dengan kitab kuning, Selasa (10/3/2026) kemarin, ratusan santri Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo, Desa Sungelebak, punya “kitab” baru untuk dibahas: Kitab Keadilan Lingkungan. Dengan gaya yang sangat sopan tapi “menampar”, mereka turun ke jalan raya Sukodadi-Paciran yang sudah mirip sungai selama empat bulan terakhir. Bukan untuk demo anarkis, tapi untuk melakukan aksi teatrikal memilukan sekaligus menggelitik: Menguras jalan raya dengan timba dan alat seadanya.
Sebuah poster besar bertuliskan “Mohon Maaf, Jalan Sedang Dikuras” menjadi bintang utama dalam aksi ini. Sebuah pesan singkat yang mengandung sindiran mendalam bagi Pemkab Lamongan: Kalau pemerintah gak bisa ngeringin, biar santri yang turun tangan!
Jalur “Urat Nadi” yang Lumpuh Total
Jalan depan Ponpes Matholi’ul Anwar ini bukan jalan desa biasa, Lur. Ini adalah akses utama yang menghubungkan Pusat Kota Lamongan menuju Pantura. Bayangkan, jalur vital ekonomi dan pendidikan dibiarkan tergenang air keruh selama 120 hari lebih!
Fakta di Balik Aksi “Semprot” Santri Simo:
| Detail Aksi | Catatan Lapangan |
| Lokasi | Depan Ponpes Matholi’ul Anwar Simo, Karanggeneng |
| Durasi Banjir | Sudah berjalan 4 bulan lebih (sejak akhir 2025) |
| Tuntutan Utama | Solusi permanen, bukan sekadar janji “Pompanisasi” |
| Koordinator | Maulana Arif Hidayatulloh |
| Dampak | Pendidikan lumpuh, ekonomi warga Macet total |
“Jangan Cuma Bilang Sudah Maksimal!”
Koordinator aksi, Maulana Arif Hidayatulloh, meledakkan keresahannya dengan kalimat yang sangat menohok. Baginya, alasan “sudah berusaha maksimal” dari pemerintah terasa hambar ketika kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
“Pemerintah selalu bilang sudah upaya maksimal, tapi nyatanya banjir bukan surut malah makin parah! Aksi ‘nguras jalan’ ini adalah pesan dari hati kami yang paling dalam. Kami ingin memastikan tahun depan Lamongan tidak banjir lagi. Masa mau Lebaran masih harus berenang?” tegas Maulana di tengah kepungan air.
Aksi santri ini adalah bentuk komunikasi publik yang sangat cerdas. Di era viralitas, narasi “Jalan Sedang Dikuras” jauh lebih efektif menarik perhatian nasional daripada sekadar orasi teriakan.
Mereka tidak hanya bicara soal kenyamanan santri, tapi soal nasib pedagang, pengguna jalan, dan warga yang setiap hari harus ganti oli motor karena mogok. Ini adalah alarm keras bagi Pemkab Lamongan: Jika pompanisasi di Pintu Kuro atau Sluis lainnya tidak bekerja, maka strategi besar harus segera diubah. Jangan sampai rakyat kehilangan kepercayaan karena merasa “dikuras” kesabarannya lebih cepat daripada air banjirnya. (rm)



