RONGGOHADI, LAMONGAN — Suasana petang di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro, yang seharusnya tenang, mendadak berubah menjadi mencekam pada Rabu (18/3/2026). Sebuah perjalanan keluarga kecil asal Solokuro yang mengendarai Honda Vario (S 69xx JCJ) berakhir dengan duka yang teramat dalam.
Niat hati ingin menyeberang jalan, sang ayah berinisial AS (41) harus menghembuskan napas terakhirnya setelah terlibat kecelakaan hebat dengan si “Ular Besi” kebanggaan warga, Bus Trans Jatim koridor Lamongan-Paciran. Lebih memilukan lagi, kejadian ini disaksikan langsung oleh sang istri, RS (28), dan buah hati mereka yang masih balita, RA (4).
Kronologi Petaka di Mulut Gang: Tanpa Menoleh, Maut Menjemput
Berdasarkan keterangan saksi mata dan hasil olah TKP kepolisian, insiden ini bermula saat motor yang dikendarai keluarga tersebut keluar dari sebuah gang desa menuju jalan raya.
Data Insiden Tragis Takerharjo:
| Detail Kejadian | Catatan Fakta |
| Waktu | Rabu, 18 Maret 2026 (Waktu Petang) |
| Lokasi | Desa Takerharjo, Solokuro, Lamongan |
| Kendaraan 1 | Honda Vario (Sekeluarga 3 orang) |
| Kendaraan 2 | Bus Trans Jatim (K7 LB12 / S7 0XX UJ) |
| Korban Jiwa | AS (41) – Meninggal Dunia di RS |
| Korban Luka | RS (28) & RA (4) – Luka Lebam Wajah |
Menurut Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, motor tersebut meluncur keluar gang dan berniat langsung menyeberang jalan raya tanpa sempat menoleh ke kanan maupun kiri. Naas, dari arah utara (Paciran), Bus Trans Jatim yang dikemudikan oleh YA (31) melaju dengan jarak yang sudah terlalu dekat.
“Benturan tak terhindarkan. Pengendara motor sempat masuk ke kolong bus. Korban AS mengalami luka berat di bagian kepala dan dinyatakan meninggal dunia saat dalam perawatan di rumah sakit,” ungkap Ipda Hamzaid, Rabu malam.
Evakuasi Cepat & Langkah Antisipasi Polisi
Tak lama setelah kejadian, Kapolsek Solokuro AKP Asik Samsul Hadi bersama Unit Gakkum Satlantas Polres Lamongan langsung terjun ke lokasi. Ambulans meraung-raung membawa ketiga korban ke rumah sakit. Meski tim medis sudah berupaya maksimal, nyawa AS tidak tertolong, sementara istri dan anaknya kini tengah berjuang pulih dari luka lebam dan trauma psikis yang mendalam.
Untuk mencegah terjadinya amuk massa atau hal-hal yang tidak diinginkan, petugas kepolisian langsung mengamankan pengemudi bus (YA) dan pramugara (GF) ke Mapolres Lamongan.
Kisah ini adalah pengingat keras bagi kita semua. Jalan raya bukan tempat untuk lengah, meski hanya sedetik. Kendaraan besar seperti Bus Trans Jatim memiliki momentum dan jarak pengereman yang tidak bisa berhenti seketika.
Pelajaran penting dari tragedi ini adalah: Jangan pernah keluar gang atau menyeberang tanpa memastikan jalur benar-benar kosong. Nyawa terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena terburu-buru. Mari kita kirimkan doa terbaik untuk almarhum AS dan kesembuhan bagi anak-istrinya. (rm)



