RONGGOHADI, LAMONGAN — Siapa bilang Lamongan cuma jago urusan padi dan ikan? Kali ini, Bumi Wali sedang “bersolek” untuk menjadi pahlawan manis bagi Indonesia! Pemerintah Kabupaten Lamongan baru saja mengambil langkah strategis dengan mengajukan 940,18 hektar lahan dalam program “sakti” pemerintah pusat: Program Bongkar Ratoon 2026.
Saat panen tebu serentak di Desa Mantup, Kamis lalu, Bupati Yuhronur Efendi (Pak Yes) menegaskan bahwa ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah komitmen nyata Lamongan untuk memastikan Indonesia tidak lagi ketergantungan pada gula impor.
Bongkar Ratoon: Apa Sih Untungnya Buat Petani?
Program Bongkar Ratoon sendiri bukan sekadar perintah menanam. Ini adalah peremajaan tanaman tebu tua agar produktivitasnya kembali meledak. Dan kabar baiknya, pemerintah datang membawa “oleh-oleh” yang bikin petani senyum lebar!
Paket “Bantuan Manis” dari Pemerintah untuk Petani:
- Bibit Unggul: Bantuan 60 ribu mata tunas tebu per hektar.
- Modal Kerja: Subsidi biaya Hari Orang Kerja (HOK) sebesar Rp4 juta per hektar.
- Skala Luas: Petani bisa mengusulkan lahan hingga maksimal 5 hektar.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lamongan, Mugito, kuota untuk Lamongan sebenarnya jauh lebih besar, yakni 1.385 hektar.
“Kami baru mengirim usulan 940,18 hektar. Jadi, masih ada ‘slot’ sisa sekitar 444 hektar lagi buat para petani yang ingin bergabung. Jangan sampai ketinggalan, ini kesempatan emas buat peremajaan lahan!” ujar Mugito dengan semangat.
Suara dari Sawah: “Kami Siap, Tapi Butuh Alat & Pupuk!”
Di balik antusiasme program ini, para petani tebu di Mantup juga menitipkan harapan besar kepada Pak Yes. Dalam dialog hangat saat panen, mereka blak-blakan soal tantangan di lapangan:
- Mekanisasi Pertanian: Petani butuh alat-alat modern agar tidak lagi mengandalkan cara manual yang memakan waktu.
- Kepastian Pupuk: Ketersediaan pupuk bersubsidi yang stabil adalah “nyawa” bagi pertumbuhan tebu.
- Daya Saing: Harapan agar usaha tani tebu tetap menjanjikan secara ekonomi di masa depan.
Tahun 2025 lalu, Lamongan berhasil memproduksi 23.318 ton tebu dari bantuan lahan seluas 274,26 hektar. Jika tahun ini angkanya digenjot hingga 940+ hektar, bisa dibayangkan betapa besar lonjakan produksi yang bakal disumbangkan Lamongan untuk nasional.
Ini adalah bentuk “transformasi” yang keren. Pemerintah tidak hanya sekadar memberi perintah, tapi juga memberi modal (HOK) dan bibit. Jika mekanisasi yang diminta petani bisa dipenuhi, bukan mustahil Lamongan akan jadi pusat “manis” yang paling diperhitungkan di Jawa Timur. Mari dukung petani tebu kita, karena di setiap batang tebu yang tumbuh, ada harapan swasembada yang kita perjuangkan bersama. (rm)



