RONGGOHADI, LAMONGAN – Bagaimana rasanya berjalan di tengah suasana Lamongan puluhan tahun silam? Pertanyaan itu seolah terjawab saat ribuan warga memadati Festival Lamongan Tempo Doeloe (LTD) Perjuangan 2026 di kawasan Gajah Mada. Selama empat hari, pusat kota disulap menjadi ruang nostalgia yang membawa pengunjung menyusuri jejak sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat Lamongan tempo dulu.
Bukan sekadar festival, Lamongan Tempo Doeloe 2026 menjadi salah satu agenda paling dinanti dalam rangkaian Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457. Mulai dari bangunan bergaya klasik, pedagang dengan busana lawas, hingga deretan jajanan tradisional sukses menciptakan atmosfer yang membuat pengunjung merasa seperti “pulang” ke masa lalu.
Bukan Hanya Nostalgia, Tapi Menghidupkan Semangat Para Pendahulu
Festival yang dibuka langsung oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, pada Rabu malam itu membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar hiburan.
Menurut Bupati Lamongan, Festival Lamongan Tempo Doeloe menjadi media untuk mengingat kembali bagaimana masyarakat Lamongan dahulu hidup dengan semangat gotong royong, kebersamaan, dan perjuangan yang begitu kuat.
“LTD menghadirkan gambaran suasana Lamongan tempo dulu, bagaimana masyarakat hidup dengan penuh kebersamaan dan memiliki semangat perjuangan yang kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut masih sangat relevan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
“Festival ini menjadi ruang untuk mengenang sekaligus meneladani nilai gotong royong, semangat juang, dan kebersamaan yang diwariskan para pendahulu.”
88 Stan Jadul Sulap Kawasan Gajah Mada Jadi Mesin Waktu
Begitu memasuki area festival, pengunjung langsung disambut deretan 88 stan bertema tempo dulu yang berjajar rapi.
Setiap sudut menghadirkan pengalaman berbeda. Mulai dari dekorasi khas era lawas, peralatan rumah tangga klasik, permainan tradisional, hingga para pelaku UMKM yang mengenakan pakaian bernuansa zaman dahulu.
Tak sedikit pengunjung yang memanfaatkan suasana tersebut sebagai lokasi berburu foto estetik dan konten media sosial.
Atmosfer inilah yang membuat Festival Lamongan Tempo Doeloe tak hanya menarik bagi generasi tua yang ingin bernostalgia, tetapi juga menjadi pengalaman baru bagi generasi muda yang belum pernah merasakan kehidupan Lamongan di masa lampau.
Surga Kuliner Jadul yang Sulit Ditolak
Salah satu daya tarik terbesar festival ini berada di sektor kuliner.
Sebanyak 50 stan UMKM menghadirkan beragam makanan tradisional dan jajanan legendaris yang kini mulai sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari aneka jajanan pasar, minuman khas daerah, hingga kuliner tradisional khas Lamongan menjadi buruan para pengunjung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan, Nalikan, mengatakan festival ini juga menjadi ajang memperkenalkan potensi UMKM lokal kepada masyarakat luas.
“Selain OPD, kecamatan, sekolah, dan BUMD, terdapat 50 stan UMKM yang menyajikan aneka jajanan jadul, makanan tradisional, hingga minuman khas daerah,” jelasnya.
Tak Sekadar Hiburan, Ada Layanan Gratis untuk Masyarakat
Yang membuat Festival Lamongan Tempo Doeloe berbeda dari festival lainnya adalah hadirnya berbagai layanan publik yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.
Dinas Kesehatan membuka pemeriksaan kesehatan gratis, sementara pasar murah menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Artinya, festival ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Nostalgia 90-an Jadi Puncak Kemeriahan
Suasana festival semakin semarak dengan berbagai hiburan yang disiapkan panitia.
Mulai dari pertunjukan campursari, musik keroncong, demo memasak bersama Asosiasi Chef Indonesia, hingga panggung Nostalgia 90-an yang diprediksi menjadi magnet utama pengunjung.
Perpaduan antara sejarah, budaya, kuliner, hiburan, dan pelayanan publik membuat Festival Lamongan Tempo Doeloe 2026 menjadi salah satu agenda HJL paling lengkap tahun ini.
Merawat Sejarah Lewat Cara yang Menyenangkan
Di tengah derasnya arus digital dan modernisasi, Festival Lamongan Tempo Doeloe membuktikan bahwa mengenalkan sejarah tidak harus dilakukan melalui buku pelajaran.
Lewat pengalaman langsung, masyarakat diajak melihat kembali bagaimana kehidupan para pendahulu, menikmati kuliner yang mulai langka, hingga merasakan suasana kebersamaan yang menjadi identitas masyarakat Lamongan sejak dahulu.
Lebih dari sekadar festival tahunan, LTD 2026 menjadi pengingat bahwa sebuah daerah akan tetap kuat jika mampu menjaga sejarahnya, merawat budayanya, dan mengenalkan warisan tersebut kepada generasi berikutnya dengan cara yang menyenangkan. (rm)



