RONGGOHADI, LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memperkuat komitmennya dalam membangun sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Tak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Lamongan juga menyiapkan berbagai program strategis mulai dari beasiswa pendidikan, pemerataan kualitas sekolah, hingga gerakan yang melibatkan peran orang tua demi menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi anak.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Drs. Shodikin, M.Pd, menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas tanpa terkendala persoalan ekonomi.
Menurutnya, paradigma tentang sekolah favorit perlahan harus ditinggalkan. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan tengah melakukan pemerataan mutu pendidikan agar seluruh sekolah, baik di pusat kota maupun pelosok desa, mampu memberikan layanan pendidikan yang setara.
“Pendidikan yang berkualitas dan merata menjadi komitmen kami. Revitalisasi gedung sekolah terus dilakukan, termasuk digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan papan tulis digital di berbagai sekolah,” ujarnya.
Tak Ada Lagi Alasan Anak Lamongan Putus Sekolah
Salah satu fokus utama Disdik Lamongan adalah memastikan tidak ada anak yang gagal melanjutkan pendidikan hanya karena keterbatasan biaya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemkab Lamongan menghadirkan berbagai program bantuan pendidikan yang menyasar seluruh jenjang pendidikan.
Program Beasiswa Perintis menjadi salah satu andalan pemerintah daerah. Bantuan ini diberikan mulai dari siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa jenjang S1. Bahkan, bagi para penghafal Al-Qur’an, pemerintah juga menyediakan bantuan pendidikan hingga jenjang S2 sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi keagamaan.
Selain itu, tersedia pula program Sekolah Rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya kategori desil 1 dan desil 2. Melalui program tersebut, peserta didik memperoleh fasilitas pendidikan sekaligus asrama secara gratis.
Kebijakan ini diharapkan mampu menekan angka putus sekolah sekaligus membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat Lamongan.
Sekolah di Desa Kini Tak Lagi Kalah dengan Sekolah Kota
Perubahan besar juga dilakukan melalui pemerataan fasilitas pendidikan.
Disdik Lamongan saat ini terus mempercepat pembangunan sarana dan prasarana sekolah berdasarkan kebutuhan riil yang tercatat dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Tak hanya pembangunan fisik, proses pembelajaran juga mulai bertransformasi menuju sistem digital.
Penyediaan papan tulis digital dan peningkatan kualitas teknologi pembelajaran menjadi langkah nyata agar siswa di wilayah pinggiran memperoleh pengalaman belajar yang sama dengan sekolah di pusat kota.
Strategi ini sekaligus menjadi upaya menghapus stigma bahwa sekolah tertentu lebih unggul dibanding sekolah lainnya.
Gerakan ‘Ayah Antar Anak’ Jadi Program Baru yang Menarik Perhatian
Selain peningkatan kualitas pendidikan, Disdik Lamongan juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik.
Fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak menjadi perhatian khusus.
Sebagai bentuk solusi, Dinas Pendidikan mencanangkan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah yang akan dilaksanakan pada 13 Juli 2026, bertepatan dengan awal tahun ajaran baru.
Program ini bertujuan membangun kedekatan emosional antara ayah dan anak sekaligus menumbuhkan semangat belajar sejak hari pertama masuk sekolah.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah berharap pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari keterlibatan aktif keluarga.
TKA Bukan Tes Masuk, Tapi Alat Ukur Kualitas Pendidikan
Dalam kesempatan itu, Shodikin juga menjelaskan mengenai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mulai diterapkan dalam sistem penerimaan murid baru.
Ia menegaskan bahwa TKA bukan sekadar seleksi penerimaan siswa, melainkan instrumen evaluasi yang digunakan pemerintah untuk memetakan kualitas pembelajaran di setiap sekolah.
Hasil evaluasi menunjukkan kemampuan akademik siswa Lamongan cukup menggembirakan.
Nilai rata-rata mata pelajaran Matematika siswa SMP mencapai 63,61, sedangkan tingkat SD berada di angka 63,44.
Ke depan, model soal juga akan terus disempurnakan agar lebih mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, terutama pada soal berbentuk narasi atau studi kasus.
Lamongan Bangun Pendidikan untuk Masa Depan Generasi Emas
Berbagai program yang dijalankan Dinas Pendidikan Lamongan menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak lagi sekadar membangun ruang kelas, melainkan membangun ekosistem belajar yang lebih inklusif, modern, dan berkeadilan.
Mulai dari Beasiswa Perintis, Sekolah Rakyat, digitalisasi sekolah, hingga Gerakan Ayah Antar Anak, seluruh kebijakan diarahkan untuk menciptakan generasi Lamongan yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Dengan pemerataan kualitas sekolah dan dukungan pendidikan hingga perguruan tinggi, Lamongan tengah menyiapkan pondasi kuat menuju lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. (rm)



