Sunday, August 16, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Tak Dapat Murid Baru, SD di Perbatasan Lamongan-Mojokerto Ini Tetap Bertahan: Kisah Pilu Sekolah yang Menolak Menyerah

RONGGOHADI, MOJOKERTO – Tahun ajaran baru biasanya identik dengan riuh tawa siswa baru yang mengenakan seragam kebesaran dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di SD Negeri Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan.

Tak ada satupun murid baru yang memasuki gerbang sekolah tahun ini. Meski begitu, semangat belajar tak ikut padam. Sekolah tetap menggelar MPLS Tahun Ajaran 2026/2027, bukan untuk siswa kelas 1, melainkan bagi siswa kelas 2 hingga kelas 5.

Di tengah sepinya ruang kelas, sekolah ini memilih bertahan daripada menyerah.

MPLS Tetap Berjalan Meski Kelas 1 Kosong

Sejak Senin (13/7/2026), aktivitas di SD Negeri Pandankrajan 1 tetap berlangsung seperti sekolah pada umumnya. Para guru mendampingi siswa mengikuti apel pagi, menata ruang kelas, hingga mengikuti berbagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah.

Yang membedakan, seluruh peserta MPLS merupakan siswa lama.

Kepala SD Negeri Pandankrajan 1, Juwono, mengatakan kegiatan tersebut tetap dilaksanakan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan adaptasi siswa memasuki tahun ajaran baru.

“MPLS harus tetap terlaksana. Kalau kelas 1 biasanya lima hari, sedangkan kelas 2 sampai kelas 6 disesuaikan kebijakan sekolah. Di sini kami laksanakan selama tiga hari,” ujarnya.

Tak Ada Bayi Usia Sekolah, Sekolah Kehilangan Generasi Baru

Fenomena tidak adanya murid baru ternyata bukan disebabkan kualitas sekolah, melainkan persoalan demografi.

SD Negeri Pandankrajan 1 berada di kawasan persawahan di Desa Pandankrajan, Kecamatan Kemlagi, wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Jumlah anak usia masuk sekolah di wilayah tersebut tahun ini nyaris tidak ada.

Selain itu, dalam satu desa terdapat beberapa sekolah dasar yang menjadi pilihan masyarakat.

“Pertumbuhan anak usia masuk SD di wilayah terdekat memang tidak ada tahun ini,” jelas Juwono.

Sempat Ada Satu Pendaftar, Tapi Akhirnya Pindah Sekolah

Kisah SD Negeri Pandankrajan 1 sebenarnya sempat memberi secercah harapan.

Saat masa penerimaan peserta didik baru dibuka, sekolah menerima satu calon siswa.

Namun harapan itu sirna menjelang penutupan pendaftaran.

Orang tua calon siswa memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain karena khawatir sang anak tidak memiliki teman belajar apabila menjadi satu-satunya murid kelas 1.

Padahal pihak sekolah mengaku siap memberikan layanan terbaik meski hanya memiliki satu peserta didik.

“Bapak dan ibu guru tetap siap mengajar meskipun hanya satu atau dua murid. Tapi orang tuanya ingin anaknya punya teman,” tutur Juwono.

Dua Kelas Kini Kosong, Tujuh Guru Tetap Mengabdi

Saat ini SD Negeri Pandankrajan 1 hanya memiliki 22 siswa yang tersebar di kelas 2 hingga kelas 5.

Sementara kelas 1 dan kelas 6 kosong tanpa siswa.

Meski jumlah peserta didik sangat terbatas, proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan didampingi tujuh tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah.

Dedikasi para guru menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar soal jumlah murid, melainkan tentang komitmen menjaga hak setiap anak untuk memperoleh pembelajaran yang layak.

Potret Nyata Tantangan Pendidikan di Daerah

Fenomena sekolah tanpa murid baru bukan hanya terjadi di SD Negeri Pandankrajan 1. Kondisi serupa mulai bermunculan di berbagai daerah akibat menurunnya angka kelahiran, perpindahan penduduk, hingga persaingan antar lembaga pendidikan.

Di balik ruang kelas yang lengang, tersimpan perjuangan para guru yang tetap datang setiap pagi dengan semangat yang sama.

Karena bagi mereka, sekolah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat menjaga harapan agar pendidikan tetap hidup, meski hanya untuk segelintir anak. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles