RONGGOHADI, LAMONGAN – Di tengah ancaman abrasi, naiknya permukaan air laut, dan dampak perubahan iklim yang semakin nyata, Pemerintah Kabupaten Lamongan memilih memperkuat benteng alami di wilayah pesisir. Melalui pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan, kawasan pesisir di Kecamatan Brondong dan Paciran kini menjadi fokus utama dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Langkah ini tidak hanya menjadi strategi pelestarian alam, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan pesisir dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Bahkan, komitmen tersebut mengantarkan Lamongan meraih penghargaan tingkat Provinsi Jawa Timur sebagai daerah yang aktif dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove.
Mangrove Jadi Garda Terdepan Lindungi Pesisir Lamongan
Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, menegaskan bahwa keberadaan hutan mangrove memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar penghijauan kawasan pantai.
Menurutnya, mangrove merupakan benteng alami yang mampu menahan abrasi, mengurangi dampak gelombang laut, menyerap karbon, sekaligus menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, hingga burung pesisir.
“Pelestarian mangrove terus kami lakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujar Dirham.
Ia menambahkan, upaya menjaga ekosistem mangrove menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus strategi menghadapi perubahan iklim yang kini mulai dirasakan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Luas Mangrove Lamongan Capai 135,59 Hektare
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan, luas kawasan mangrove di Lamongan saat ini mencapai 135,59 hektare yang tersebar di dua kecamatan pesisir.
Sebagian besar kawasan mangrove berada di Kecamatan Brondong dengan luas sekitar 114 hektare atau sekitar 85 persen dari total kawasan mangrove Lamongan.
Wilayah tersebut meliputi:
- Desa Labuhan
- Desa Lohgung
- Desa Sedayulawas
- Desa Sidomukti
Sementara itu, sisanya seluas 21,59 hektare atau sekitar 15 persen berada di Kecamatan Paciran, tepatnya di:
- Desa Tlogosadang
- Desa Sidokelar
- Desa Kranji
- Desa Tunggul
- Desa Kandangsemangkon
Keberadaan kawasan tersebut menjadi aset ekologis yang sangat penting bagi Kabupaten Lamongan, terutama dalam menjaga kualitas lingkungan pesisir.
Bukan Sekadar Menanam Pohon, Tapi Menjaga Masa Depan
Pengelolaan mangrove yang dilakukan Pemkab Lamongan tidak hanya berorientasi pada penanaman pohon semata.
Pemerintah daerah menargetkan pengelolaan secara menyeluruh melalui konservasi, pemeliharaan, edukasi masyarakat, hingga pemberdayaan warga pesisir agar manfaat mangrove dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Selain menjaga lingkungan, kawasan mangrove juga dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi, pusat penelitian, hingga pengembangan ekonomi berbasis ekowisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Komitmen Lamongan Raih Apresiasi dari Gubernur Jawa Timur
Keseriusan Pemkab Lamongan dalam menjaga kawasan mangrove mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kabupaten Lamongan menerima Piagam Penghargaan sebagai Pembina Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove pada ajang Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 yang digelar di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Rabu (29/7/2026).
Penghargaan yang diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut menjadi bukti bahwa upaya pelestarian lingkungan di Lamongan mulai mendapat pengakuan di tingkat provinsi.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, Lamongan optimistis kawasan mangrove akan terus berkembang sebagai benteng hijau yang menjaga pesisir sekaligus menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang. (rm)



