Saturday, September 12, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Air Menipis, Petani Lamongan Tak Berhenti Menanam: Ini Strategi Hadapi Kemarau dan El Nino

LAMONGAN, RONGGOHADI – Ketika musim kemarau datang dan ancaman El Nino mulai membayangi, petani di Lamongan tidak lantas harus berhenti menanam. Justru, pemerintah daerah mendorong mereka mengubah strategi: memilih tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air tetapi tetap punya nilai ekonomi.

Bagi petani di lahan sawah tadah hujan, strategi ini menjadi penting. Sebab, ketika hujan tak lagi bisa diandalkan, air menjadi faktor pembatas yang menentukan apakah lahan tetap produktif atau justru menganggur.

Pemerintah Kabupaten Lamongan pun mengarahkan petani untuk menyesuaikan komoditas dengan kondisi air yang tersedia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan, Mugito, mengatakan kebijakan tersebut disusun berdasarkan pemetaan kondisi lahan pertanian di Lamongan.

Lebih dari Separuh Lahan Sawah Lamongan Tak Bergantung Irigasi

Lamongan memiliki Luas Lahan Baku Sawah (LBS) sekitar 95.530 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 55 persen merupakan lahan nonirigasi atau sawah tadah hujan.

Angka itu menunjukkan betapa besar tantangan yang harus dihadapi petani ketika musim kemarau tiba.

Karena itu, ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan potensi kemarau serta ancaman El Nino, petani di kawasan tadah hujan diarahkan untuk memilih tanaman yang lebih hemat air.

“Ketika BMKG mengumumkan kemarau dan ancaman El Nino, masyarakat tani di area tadah hujan kita arahkan menanam tanaman yang hemat air seperti kacang hijau, kedelai, jagung, tembakau, tebu, kangkung, hingga buah-buahan,” ujar Mugito, Selasa.

Pilihan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Sejumlah komoditas dinilai mampu tumbuh dengan kebutuhan air yang lebih rendah dibandingkan padi.

Bahkan, sebagian komoditas tersebut sudah dipanen petani dan memiliki harga jual yang cukup baik di pasaran.

Saat Air Sedikit, Komoditas Harus Pintar Dipilih

Bagi petani, mengganti komoditas bukan sekadar perkara mengikuti arahan pemerintah. Ada hitung-hitungan ekonomi di baliknya.

Tanaman yang dipilih harus mampu bertahan dalam kondisi air terbatas sekaligus memberikan pendapatan yang layak.

Kacang hijau, kedelai, jagung, tembakau, tebu, kangkung, hingga tanaman buah menjadi sejumlah pilihan yang didorong pemerintah untuk lahan tadah hujan selama musim kemarau.

Dengan strategi tersebut, lahan pertanian diharapkan tetap menghasilkan meskipun tidak mendapatkan pasokan air sebanyak musim penghujan.

Konsepnya sederhana: ketika air berubah menjadi barang mahal, pola tanam juga harus ikut berubah.

392 Titik Infrastruktur Air Disiapkan

Mengandalkan pergantian komoditas saja tentu belum cukup.

Pemkab Lamongan bersama Kementerian Pertanian juga menyiapkan infrastruktur untuk memperkuat ketersediaan air bagi sektor pertanian.

Sebanyak 392 titik atau unit sarana irigasi dan konservasi dialokasikan. Infrastruktur tersebut meliputi bangunan konservasi, Irigasi Perpompaan (Irpom), Irigasi Perpipaan (Irpip), serta Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT).

Tak berhenti di sana, sebanyak 293 unit mesin pompa air dari program Kementerian Pertanian juga disalurkan pada 2026.

Harapannya, lahan yang masih memungkinkan mendapatkan tambahan pasokan air dapat terus dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Sawah yang Teraliri Irigasi Masih Relatif Aman

Sementara itu, kondisi tanaman padi di wilayah yang memperoleh pasokan dari jaringan irigasi teknis masih relatif aman.

Terutama kawasan yang mendapatkan suplai air dari waduk besar maupun wilayah yang berada di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Di tengah tantangan kemarau, ada kabar baik lain bagi petani. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani bahkan dilaporkan mencapai Rp8.600 per kilogram.

“Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani menembus angka hingga Rp8.600 per kilogram,” kata Mugito.

Harga tersebut menjadi angin segar bagi petani karena dapat membantu menjaga pendapatan di tengah meningkatnya tantangan biaya produksi dan ketidakpastian musim.

Saluran Air Dibersihkan, Bengawan Solo Jadi Andalan

Untuk memastikan air dapat mengalir lebih optimal, Pemkab Lamongan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Karya (SDABK) terus mengintensifkan pengerukan dan normalisasi saluran yang berhulu di Bengawan Solo.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga distribusi air agar tidak terhambat sedimentasi maupun kondisi saluran yang kurang optimal.

Sebab dalam pertanian, air yang tersedia di sumber belum tentu otomatis sampai ke sawah.

Saluran yang baik menjadi bagian penting agar setiap tetes air dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Lamongan Memilih Beradaptasi, Bukan Menyerah

Ancaman kemarau dan El Nino memang menjadi tantangan serius bagi pertanian Lamongan. Namun, pemerintah daerah mencoba menghadapinya dengan kombinasi strategi: mengubah pola tanam, memilih komoditas hemat air, memperkuat infrastruktur irigasi, menyediakan pompa, hingga memperbaiki jaringan distribusi air.

Pada akhirnya, petani lahan tadah hujan tidak sedang diminta untuk berhenti bertani.

Mereka justru diajak untuk bertani dengan cara yang lebih adaptif.

Karena ketika cuaca berubah dan air semakin terbatas, mempertahankan produktivitas bukan berarti memaksakan tanaman yang sama.

Kadang, cara terbaik untuk tetap panen adalah berani memilih tanaman yang berbeda. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles