Monday, October 19, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Kisah Marsel, Remaja 16 Tahun di Lamongan yang Rela Berhenti Sekolah demi Bantu Ibu Melawan Kanker

LAMONGAN, RONGGOHADI – Di usia 16 tahun, ketika sebagian besar remaja seusianya sibuk belajar dan merajut cita-cita di bangku sekolah, Ilham Putra Marselino justru harus berjuang mencari nafkah. Remaja yang akrab disapa Marsel itu rela meninggalkan sekolah demi membantu perekonomian keluarga, terutama untuk mendampingi sang ibu yang sedang berjuang melawan kanker usus.

Setiap hari, Marsel berjualan polo pendem, jajanan tradisional khas Jawa, di kawasan pertigaan Bundaran Tugu Wingko, Jalan Gotong Royong, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Di tengah lalu lalang kendaraan, ia menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang melintas demi memperoleh penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga.

Saat ditemui di tempatnya berjualan, Minggu (18/10/2026), Marsel mengaku sebenarnya masih ingin melanjutkan pendidikan. Namun, kondisi ekonomi keluarga dan penyakit yang diderita ibunya membuatnya merasa harus bekerja.

“Ya, saya sebetulnya masih ingin sekolah. Cuma karena keadaan ekonomi keluarga kurang dan ibu juga sedang sakit kanker usus, jadi saya memilih untuk bekerja dulu. Uangnya bisa buat hidup keluarga,” tutur Marsel.

Berhenti Sekolah demi Membantu Keluarga

Cobaan keluarga Marsel bermula beberapa bulan lalu, ketika ibunya, Sumarlik, didiagnosis menderita kanker usus. Kondisi kesehatannya membuat Sumarlik tidak lagi bisa bekerja seperti sebelumnya dan lebih banyak beristirahat di rumah.

Sementara itu, ayah kandung Marsel telah lama meninggal dunia. Kini, ia tinggal bersama ibunya dan ayah sambungnya yang bekerja sebagai sopir lepas.

Penghasilan ayah sambungnya tidak menentu, berkisar Rp50.000 hingga Rp75.000 per hari. Pendapatan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara kebutuhan pengobatan Sumarlik juga memerlukan perhatian.

Setiap dua minggu sekali, Sumarlik harus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit. Selama ini, pengobatannya mengandalkan BPJS Kesehatan mandiri yang iurannya harus dibayarkan setiap bulan.

Di tengah keadaan tersebut, Marsel memilih ikut membantu mencari nafkah. Ia menghentikan sekolah saat masih duduk di kelas XI SMK, tanpa sempat mengurus cuti maupun pengunduran diri secara resmi.

Setiap hari, ia menjajakan polo pendem milik orang lain dengan penghasilan sekitar Rp35.000 hingga Rp40.000. Uang itu dikumpulkan selama sebulan, kemudian diserahkan kepada ibunya untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meski sudah bekerja, penghasilannya belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Untuk kebutuhan pangan dan membayar tagihan listrik, mereka terkadang masih mengandalkan bantuan saudara.

“Sehari-hari terkadang saya harus meminta beras ke kakak untuk kebutuhan harian. Untuk membayar tagihan listrik agar rumah tetap mendapat penerangan juga masih kerap dibantu saudara,” ungkap Marsel.

Berharap Bisa Kembali Bersekolah

Di balik perjuangannya mencari nafkah, Marsel masih menyimpan keinginan untuk kembali belajar dan mengejar cita-cita. Baginya, bekerja saat ini merupakan cara membantu keluarga bertahan, bukan berarti ia ingin meninggalkan pendidikan selamanya.

Harapan itu tumbuh ketika melihat temannya, Reno, yang pernah mengalami keadaan serupa. Reno, yang juga berjualan polo pendem, disebut mendapatkan beasiswa sehingga bisa kembali bersekolah.

Pengalaman tersebut menjadi penyemangat bagi Marsel untuk berharap memperoleh kesempatan serupa. Ia ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus mengabaikan kondisi keluarganya.

Di tengah kesibukannya berjualan, ada tiga harapan yang terus ia simpan: ibunya bisa kembali membaik, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan dirinya mendapat kesempatan kembali ke bangku sekolah.

KIS dan KIP Tak Lagi Aktif

Harapan agar kondisi keluarga membaik juga disampaikan Sumarlik. Di tengah perjuangannya melawan kanker usus, ia berharap mendapat kemudahan akses pengobatan dan bantuan agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan.

Sumarlik mengaku memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun, menurut pengakuannya, kedua kartu tersebut sudah lama tidak aktif.

“Saya mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), tapi sudah lama tidak aktif,” ungkap Sumarlik.

Ia berharap kepesertaan KIS miliknya dapat kembali aktif sehingga akses pengobatan menjadi lebih mudah. Selain itu, ia berharap Marsel bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.

Bagi Sumarlik, kesehatan dan masa depan anaknya sama-sama penting. Ia ingin mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan sekaligus melihat Marsel kembali mengenakan seragam sekolah dan belajar bersama teman-teman seusianya.

Kisah Marsel menjadi gambaran perjuangan sebuah keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus penyakit serius. Di usia yang masih belia, ia memilih bekerja demi membantu ibunya, tetapi keinginan untuk meraih masa depan melalui pendidikan belum padam.

Di antara jajanan tradisional yang dijajakannya setiap hari, tersimpan harapan seorang anak untuk melihat ibunya pulih dan kembali memperoleh kesempatan belajar. Sebuah harapan sederhana yang dapat menjadi awal bagi masa depan yang lebih baik bagi Marsel dan keluarganya.(rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles