RONGGOHADI, LAMONGAN – Jam istirahat sekolah yang seharusnya menjadi waktu bagi siswa untuk bermain justru berujung insiden menegangkan di Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Empat siswa kelas 1 sekolah dasar (SD) berusia sekitar tujuh tahun terjatuh ke dalam sumur sedalam kurang lebih delapan meter setelah penutup sumur berbahan cor beton yang mereka pijak jebol, Kamis (29/10/2026).
Beruntung, keempat anak tersebut berhasil dievakuasi melalui upaya bersama kepolisian, tenaga kesehatan, dan warga sekitar. Setelah mendapatkan pemeriksaan medis di Puskesmas Modo, mereka diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan sesuai penanganan yang diberikan.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.40 WIB, ketika kegiatan belajar mengajar memasuki jam istirahat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, keempat siswa sedang bermain di sekitar sumur yang berada di lingkungan sekolah.
Penutup cor beton pecah saat diinjak
Kejadian bermula ketika keempat siswa naik ke atas penutup sumur. Mereka kemudian melompat-lompat di atas permukaan cor beton tersebut. Diduga tidak mampu menahan beban, penutup sumur akhirnya jebol dan pecah hingga keempat anak terjatuh ke dalamnya.
Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar delapan meter dan diketahui terdapat sedikit air di bagian bawahnya. Situasi itu membuat pertolongan perlu segera dilakukan agar anak-anak dapat dikeluarkan dan memperoleh pemeriksaan kesehatan.
Begitu mengetahui kejadian tersebut, kepala sekolah langsung menghubungi Polsek Modo untuk meminta bantuan evakuasi.
Kapolsek Modo, AKP Witono Hariadi, S.H., bersama sejumlah anggota kepolisian segera mendatangi lokasi. Petugas kemudian berkoordinasi dengan bidan desa dan warga sekitar untuk melakukan proses penyelamatan.
Melalui upaya bersama tersebut, keempat siswa akhirnya berhasil diangkat dari dalam sumur.
Empat siswa diperiksa di Puskesmas Modo
Setelah dievakuasi, keempat anak menjalani pemeriksaan awal oleh bidan desa. Mereka selanjutnya dibawa ke Puskesmas Modo untuk menjalani pemeriksaan medis guna memastikan kondisi kesehatan masing-masing setelah terjatuh dari ketinggian.
Berdasarkan informasi yang diterima, keempat siswa telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pemeriksaan. Mereka menjalani rawat jalan sesuai penanganan medis yang diberikan.
Kasihumas Polres Lamongan, IPDA M. Hamzaid, S.Pd., mengatakan respons cepat petugas kepolisian, tenaga kesehatan, dan masyarakat berperan penting dalam proses evakuasi tersebut.
“Keempat anak berhasil dievakuasi dan telah mendapatkan penanganan medis,” katanya.
Keselamatan fasilitas sekolah perlu menjadi perhatian
Insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan lingkungan sekolah perlu diperiksa secara menyeluruh, termasuk fasilitas yang mungkin terlihat biasa tetapi berpotensi membahayakan siswa.
Hamzaid mengingatkan pihak sekolah agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, terutama saat jam istirahat. Kondisi sarana dan prasarana juga perlu diperiksa secara berkala untuk mengantisipasi risiko kecelakaan.
Sumur, saluran air, lubang terbuka, dan area lain yang berpotensi membahayakan anak perlu diamankan dengan pembatas atau penutup yang sesuai standar keselamatan. Apabila ditemukan penutup yang retak, rapuh, atau tidak mampu menahan beban, perbaikan perlu segera dilakukan dan area tersebut harus ditutup dari akses siswa.
“Keselamatan anak merupakan tanggung jawab kita bersama. Kami mengajak pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap keselamatan anak serta segera melaporkan apabila ditemukan fasilitas yang berpotensi membahayakan,” imbaunya.
Peristiwa di Modo ini menunjukkan pentingnya menggabungkan pengawasan terhadap aktivitas siswa dengan pemeriksaan rutin terhadap kondisi bangunan dan fasilitas sekolah. Sebab, menciptakan sekolah yang aman bukan hanya soal mendampingi anak saat belajar, tetapi juga memastikan setiap sudut lingkungan sekolah tidak menyimpan risiko yang dapat membahayakan mereka.


