RONGGOHADI, LAMONGAN—Sebuah tragedi pilu sekaligus peringatan keras kembali terjadi di perlintasan sebidang Dusun Bulutrate, Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat, Lamongan, Senin (14/10) sore. Ali Fadli (51), warga setempat, kini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah bertaruh nyawa melawan kecepatan Kereta Api (KA) dan kalah telak.
Insiden ini adalah kisah klasik tentang kecerobohan yang berakibat fatal. Pukul 15.00 WIB, palang pintu perlintasan manual sudah mulai bergerak turun, sebuah isyarat tegas bahwa bahaya besar sedang mendekat. Namun, Ali Fadli, yang mengendarai Honda Supra Fit dari utara ke selatan, memutuskan untuk NEKAT TEROBOS sebelum palang benar-benar tertutup.
Satu Detik yang Mengubah Hidup!
Di saat yang sama, KA 29F Agro Anjasmoro dengan lokomotif perkasa CC 2039410 melaju kencang dari arah timur. Kecepatan kereta premium relasi Jakarta–Surabaya ini tidak mengenal kompromi.
Benturan keras tak terhindarkan. Bagian belakang motor Ali Fadli dihantam telak. Kanit Gakkum Satlantas Polres Lamongan, Iptu Debbhi Setyastomo, menjelaskan kronologi mengerikan ini.
“Korban terpental sejauh sekitar 3 meter dari jalur kereta akibat benturan keras,” ujar Iptu Debbhi. Terpentalnya tubuh sejauh tiga meter menunjukkan betapa dahsyatnya energi tabrakan antara motor dan laju kereta api.
Korban yang langsung dilarikan ke RSU Babat kini terbaring dengan luka serius di bagian kepala dan mengalami patah tulang kaki. Sebuah harga yang teramat mahal untuk sebuah keputusan nekat menerobos palang pintu.
Pesan Kemanusiaan dari Sang Penjaga Rel
Kisah ini adalah pengingat berdarah, terutama bagi para pengendara yang selalu terburu-buru. Palang pintu, sirine, dan penjaga rel bukan penghalang, melainkan malaikat penjaga yang berjuang melindungi nyawa kita dari monster baja seberat ratusan ton yang melaju tanpa bisa mengerem mendadak.
Mengingat perlintasan Babat – Lamongan merupakan jalur padat, Iptu Debbhi sekali lagi mengimbau masyarakat: HATI-HATI! UTAMAKAN KESELAMATAN!
Jangan pernah korbankan nyawa dan masa depan Anda hanya demi menghemat waktu satu menit. Ketika palang mulai tertutup, berhentilah. Tunggu. Kereta api selalu lebih cepat, dan ia selalu menang. Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir. (rm)



