RONGGOHADI, LAMONGAN — Kabupaten Lamongan baru saja menutup buku tahun 2025 dengan tinta emas. Di bawah tangan dingin pemerintah daerah dan semangat baja para petaninya, target swasembada pangan nasional berhasil dilampaui dengan angka yang bikin geleng-geleng kepala: 100,73 persen! Dengan luas tanam mencapai 192.373 hektare, Lamongan resmi mengukuhkan diri sebagai benteng pertahanan pangan yang tak tergoyahkan.
Namun, Lamongan tidak mau berpuas diri hanya dengan urusan beras dan jagung. Memasuki awal tahun 2026, sebuah misi “manis” telah disiapkan untuk mendukung penuh visi Presiden RI Prabowo Subianto: Swasembada Gula Masal!
Prestasi 2025: Surplus dan Distribusi yang “Sat-Set”
Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, mengungkapkan rasa syukurnya setelah mengikuti koordinasi nasional di Ruang Command Center Pemkab Lamongan, Rabu (07/01/2026). Keberhasilan Lamongan tak lepas dari distribusi bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dan pupuk yang tepat sasaran.
“Alhamdulillah, Lamongan bukan lagi penonton, tapi pemain utama lumbung pangan nasional. Produksi kita sangat tinggi, dan yang paling penting, petani merasakan langsung manfaat bantuan pemerintah,” ujar Dirham dengan nada optimis.
Kawalan Ketat: Harga Pupuk Harus Turun, Harga Gabah Harus “Strong”!
Menariknya, Wabup Dirham tidak hanya bicara soal angka produksi. Beliau menunjukkan keberpihakan nyata pada dompet para petani. Ada pesan tegas bagi siapa pun yang bermain-main dengan harga di lapangan:
- Pupuk Subsidi: Wajib turun harga hingga 20 persen sesuai ketentuan.
- Harga Gabah: Tidak boleh ada yang membeli di bawah Rp6.500 per kilogram.
- Call to Action: “Jika masih ada yang nakal, segera laporkan! Swasembada pangan harus berbanding lurus dengan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Misi 2026: Menuju Swasembada Gula 500 Hektare
Jika 2025 adalah tahunnya padi dan jagung, maka 2026 adalah tahunnya Tebu. Pemerintah pusat telah membidik Lamongan sebagai lokasi strategis pengembangan tebu dengan target luasan lahan mencapai 500 hektare.
Dukungan penuh juga datang dari barisan hijau. Dandim 0812 Lamongan, Letkol Deni Suryo Anggo Digdo, menyatakan siap mengerahkan jajarannya untuk mengawal program ini dari hulu ke hilir.
“Negara kita kaya, dan Lamongan punya potensi luar biasa. Kami optimis target 500 hektare untuk swasembada gula ini bukan hal mustahil. TNI siap mengawal agar masyarakat semakin makmur,” tegas Letkol Deni.
Mengapa Ini Penting Untuk Ekonomi Kita?
Swasembada pangan dan gula bukan hanya soal makan, tapi soal kedaulatan. Dampak positifnya sudah mulai terasa di Lamongan:
- Ekonomi Meroket: Pendapatan petani meningkat drastis.
- Kemiskinan Turun: Lapangan kerja di sektor agrikultur semakin luas.
- Inflasi Terkendali: Harga kebutuhan pokok tetap stabil karena stok melimpah. (rm)



