RONGGOHADI, LAMONGAN — Kalau biasanya orang bangga dengan rekor, warga di 44 desa di Lamongan justru sedang mengelus dada. Bayangkan, Lur, sementara daerah lain sibuk memoles diri menyambut Lebaran, puluhan desa di 5 kecamatan di Lamongan justru masih harus berjibaku dengan genangan air yang tak kunjung pamit.
Bukan hitungan hari atau minggu, tapi sudah hampir empat bulan! Jalan provinsi yang seharusnya mulus untuk mobilitas ekonomi, kini berubah fungsi menjadi jalur “uji nyali” bagi para pengendara.
Titik “Horor” Jalur Sumlaran-Karanggeneng
Bagi Anda yang sering melintas di jalur Sumlaran-Karanggeneng, pasti sudah hafal dengan pemandangan di Desa Sungelebak. Air setinggi 45 sentimeter siap menyambut knalpot motor Anda.
Snapshot Kondisi Banjir Lamongan (9/3/2026):
| Lokasi Terdampak | Status Jalan | Kondisi Terkini |
| Desa Sungelebak | Jalan Provinsi | Genangan 45 cm, panjang ±75 meter. |
| Desa Sumberwudi | Jalan Provinsi | Sudah 4 bulan tergenang (Akses Karanggeneng). |
| Deket – Glagah | Jalan Kabupaten | Setidaknya ada 5 titik genangan parah. |
| Soko – Glagah | Jalan Kabupaten | Terputus/Hanya bisa dilalui kendaraan tertentu. |
“Jalan ini sudah hampir empat bulan kebanjiran. Kita seperti dipaksa terbiasa dengan kondisi ini, padahal motor mogok dan terjatuh sudah jadi pemandangan harian,” keluh Aji, warga Sumberwudi yang tiap hari harus “bertaruh” dengan mesin motornya.
Dilema Pintu Kuro: Mengapa Air Gak Mau Pergi?
Mungkin banyak yang bertanya, “Kenapa nggak dibuka saja pintu airnya?”. Nah, di sinilah letak kerumitannya. Kepala Dinas PU SDA Lamongan, Erwin Sulitya Pambudi, menjelaskan bahwa kita sedang berhadapan dengan hukum alam yang keras.
- Hukum Level Air: Level air di Kuro Luar (Sungai Bengawan Solo) saat ini lebih tinggi daripada Kuro Dalam (Bengawan Jero).
- Risiko: Jika pintu air dibuka, bukan air banjir yang keluar, tapi air Bengawan Solo malah bakal “mampir” masuk ke permukiman warga.
- Solusi Sementara: Saat ini, pemerintah hanya bisa mengandalkan pompa air di pintu sluis Kuro. Namun, dengan curah hujan yang masih tinggi, perjuangan ini seperti menguras samudera dengan sendok.
Drama “Knalpot Masuk Air”: Dari Mogok Hingga Terguling
Banjir kali ini disebut warga sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Di sepanjang jalan Deket hingga Glagah, pemandangan orang mendorong motor sudah seperti parade harian.
Tak sedikit pengendara yang kehilangan keseimbangan karena jalan yang tertutup air ternyata berlubang atau licin. “Banyak motor yang mesinnya mati total karena kemasukan air. Bahkan ada yang motornya ditinggal di lokasi karena sudah tidak bisa apa-apa lagi,” ujar Yogi, salah satu warga terdampak.
Prediksi bahwa banjir akan bertahan hingga mendekati Lebaran tentu bukan kabar yang ingin kita dengar. Lebaran yang seharusnya identik dengan baju baru dan aspal mulus untuk silaturahmi, kini dibayangi oleh sarung yang digulung tinggi dan perahu penyeberangan.
Lamongan butuh solusi permanen, bukan sekadar pompa yang bekerja lembur. Apakah sodetan atau normalisasi besar-besaran Bengawan Jero bakal terealisasi? Warga hanya bisa berharap agar “musim air” ini segera berakhir sebelum takbir berkumandang. (rm)



