Sunday, May 10, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Antusias Membludak, Tapi Informasi Minim: Koperasi Merah Putih di Lamongan Masih Tunggu “Lampu Hijau” Resmi

RONGGOHADI, LAMONGAN – Wacana pembentukan Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah pusat mulai menggeliat hingga ke tingkat desa. Namun di balik tingginya antusiasme masyarakat, terselip satu persoalan klasik: minimnya informasi resmi.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Gunung Rejo, Kecamatan Kedungpring, Hutomo, yang mengaku hingga saat ini pihaknya belum menerima surat resmi terkait mekanisme rekrutmen tenaga kerja koperasi tersebut.

“Kami baru sebatas mengetahui dari media. Surat resmi dari pemerintah sampai sekarang belum kami terima,” ujarnya.

Antusias Tinggi, Pemuda Siap Terjun

Meski informasi teknis belum jelas, antusiasme masyarakat—khususnya kalangan muda—terbilang luar biasa. Desa Gunung Rejo disebut memiliki banyak potensi sumber daya manusia, mulai dari lulusan SMA hingga perguruan tinggi.

Bahkan, menurut Hutomo, sudah banyak warga yang mulai menanyakan peluang kerja di Koperasi Merah Putih.

“Banyak yang tanya ke kami, kapan dibuka, bagaimana cara daftar, sampai soal gaji. Tapi kami belum bisa menjelaskan secara detail,” katanya.

Lokasi Strategis, Infrastruktur Siap

Di sisi lain, kesiapan fisik di desa ini justru sudah cukup matang. Gedung koperasi disebut telah rampung 100 persen dan berada di lokasi strategis—tepi jalan poros yang menghubungkan beberapa wilayah penting.

Tak hanya itu, dukungan fasilitas juga mulai mengalir. Pemerintah desa telah menerima armada operasional berupa truk untuk mendukung aktivitas koperasi ke depan.

Seleksi Pengurus Tanpa “Orang Dalam”

Menariknya, dalam pembentukan awal kepengurusan koperasi, Pemerintah Desa Gunung Rejo menegaskan tidak ada praktik nepotisme.

Hutomo memastikan bahwa pengurus dipilih berdasarkan rekam jejak kontribusi terhadap desa, bukan karena kedekatan personal.

“Saya pastikan tidak ada keluarga kepala desa yang masuk pengurus. Semua dipilih dari pemuda yang punya komitmen dan pernah berkontribusi untuk desa,” tegasnya.

Pengurus pun disebar merata dari lima dusun yang ada, guna memastikan keterwakilan dan pemerataan peran.

Harapan: Manajer dari Warga Lokal

Meski demikian, satu harapan besar disampaikan oleh pemerintah desa: agar posisi strategis seperti manajer diisi oleh warga lokal.

Menurut Hutomo, pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat menjadi kunci keberhasilan koperasi di tingkat desa.

“Kalau dari luar, butuh adaptasi. Kalau dari warga sini, mereka sudah tahu kebutuhan masyarakat itu apa,” jelasnya.

Bukan Sekadar Program, Tapi Harapan Jangka Panjang

Lebih dari sekadar proyek, Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Bahkan, Pemerintah Desa Gunung Rejo telah menyiapkan lahan tambahan untuk pengembangan usaha di masa depan, termasuk sektor pertanian dan perkebunan.

“Kami ingin ini jadi wadah jangka panjang, bukan hanya program sesaat,” ungkapnya.

Menunggu Kepastian

Kini, bola ada di tangan pemerintah pusat. Masyarakat desa menunggu kepastian—mulai dari mekanisme rekrutmen, sistem kerja, hingga skema pengelolaan koperasi.

Di tengah semangat yang sudah terbangun, kejelasan informasi menjadi kunci agar harapan tidak berubah menjadi kebingungan. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles