RONGGOHADI, LAMONGAN – Siapa sangka tanaman eceng gondok yang selama ini dianggap gulma pengganggu justru disulap menjadi produk fesyen bernilai tinggi oleh dua pelajar asal Kabupaten Lamongan.
Lewat tangan kreatif Mohammad Rizqi Hisyam dan Najwa Aqilah Zahrotun Nadhifa, siswa MAN 1 Lamongan, tanaman yang kerap memenuhi sungai dan waduk itu kini menjelma menjadi Songgola (Songkok Eceng Gondok Lamongan), sebuah songkok ramah lingkungan yang memadukan inovasi, budaya, dan teknologi dalam satu produk.
Inovasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Bukan Sekadar Songkok, Tapi Simbol Kepedulian Lingkungan
Berbeda dengan songkok pada umumnya, Songgola dibuat dari serat eceng gondok yang melalui proses pengeringan dan pengolahan khusus hingga menghasilkan material yang ringan, kuat, sekaligus memiliki tekstur alami yang estetik.
Menurut Rizqi, ide tersebut lahir dari keinginan menghadirkan solusi atas melimpahnya eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai limbah alam.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah alam bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi. Ini bukan hanya soal fesyen, tetapi juga solusi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru di Lamongan,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Gagasan tersebut sekaligus menjadi bentuk kampanye bahwa produk ramah lingkungan mampu memiliki nilai jual tinggi jika dikemas dengan inovasi yang tepat.
Sentuhan Batik Lamongan Jadi Identitas Khas
Keunikan Songgola tidak berhenti pada materialnya.
Kedua pelajar tersebut juga menyematkan motif khas Batik Lamongan sebagai identitas budaya lokal sehingga tampil lebih elegan tanpa meninggalkan akar tradisi.
Perpaduan material alami dengan sentuhan budaya membuat Songgola memiliki karakter berbeda dibanding produk songkok yang sudah beredar di pasaran.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara konvensional, melainkan dapat diwujudkan melalui desain produk yang mengikuti perkembangan zaman.
Sudah Berbasis Digital, Dilengkapi QR Code
Menariknya lagi, Songgola juga telah mengikuti perkembangan era digital.
Setiap produk dilengkapi QR Code yang memungkinkan konsumen memperoleh berbagai informasi mengenai produk, proses pembuatan, hingga cerita di balik inovasi tersebut.
Konsep ini menjadi nilai tambah karena menggabungkan kerajinan tradisional dengan teknologi modern.
Generasi Muda Harus Berani Melihat Peluang
Sementara itu, Najwa Aqilah Zahrotun Nadhifa berharap inovasi ini mampu menginspirasi pelajar lain agar lebih berani menciptakan karya dari potensi yang ada di sekitar.
“Kami berharap Songgola bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melihat peluang dari berbagai persoalan di lingkungan sekitar. Kreativitas akan menjadi modal penting menghadapi persaingan industri di masa depan,” tuturnya.
Lamongan Kembali Melahirkan Inovator Muda
Keberhasilan dua pelajar MAN 1 Lamongan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar ataupun perusahaan teknologi.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang selama ini dianggap tidak bernilai, mereka berhasil menghadirkan produk kreatif yang menggabungkan pelestarian lingkungan, budaya lokal, ekonomi kreatif, dan transformasi digital dalam satu karya. Jika terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Songgola akan menjadi salah satu ikon produk kreatif khas Lamongan yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.(rm)



