RONGGOHADI, LAMONGAN – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Kabupaten Lamongan. Sebagai langkah cepat mengantisipasi krisis air bersih, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan resmi mendistribusikan 25.000 liter air bersih kepada masyarakat Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, yang menjadi salah satu kawasan paling awal terdampak kekeringan.
Distribusi perdana ini menjadi bagian dari kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, Desa Kedungkumpul diprioritaskan karena berdasarkan hasil pemetaan pemerintah daerah, wilayah tersebut bersama sebagian kawasan Kecamatan Kembangbahu memiliki risiko tinggi mengalami kekurangan air bersih selama musim kemarau.
“Pemerintah telah memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Hari ini merupakan distribusi air bersih pertama dan kami akan terus bersiaga hingga Oktober untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Bupati.
Lima Truk Tangki Diterjunkan
Dalam pendistribusian tahap awal, Pemkab Lamongan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengerahkan lima unit truk tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter.
Air bersih tersebut disalurkan langsung kepada warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Pemkab juga memastikan distribusi tidak berhenti pada tahap pertama. Penyaluran berikutnya akan dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat berdasarkan laporan resmi dari pemerintah desa.
Dengan mekanisme tersebut, volume maupun frekuensi pengiriman air dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan sehingga bantuan lebih tepat sasaran.
Pertanian Masih Bertahan di Tengah Kemarau
Menariknya, meski menghadapi keterbatasan air bersih, sektor pertanian di Desa Kedungkumpul masih menunjukkan kondisi yang cukup baik.
Saat ini para petani justru tengah memasuki masa panen raya kacang hijau, setelah sebelumnya berhasil melewati dua musim tanam padi.
Harga jual kacang hijau yang mencapai sekitar Rp25 ribu per kilogram menjadi angin segar bagi petani di tengah ancaman musim kemarau.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian di wilayah tersebut masih mampu bertahan berkat pengelolaan sumber air yang relatif baik.
Pemkab Siapkan Solusi Permanen
Tidak hanya fokus pada penanganan darurat, Pemkab Lamongan juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap tahun.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah normalisasi waduk di Dusun Walongkopo, Desa Kedungkumpul, guna meningkatkan kapasitas tampung air selama musim penghujan.
Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki jaringan irigasi agar distribusi air menuju lahan pertanian maupun kebutuhan masyarakat menjadi lebih optimal.
Di sisi lain, Pemkab Lamongan masih mengkaji pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mojolagres menuju Kecamatan Sarirejo sebagai solusi permanen penyediaan air bersih.
Meski pembangunan jaringan perpipaan membutuhkan investasi yang cukup besar, proyek tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko kekeringan di masa mendatang.
Komitmen Hadapi Musim Kemarau
Pemkab Lamongan menegaskan akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca serta kebutuhan masyarakat selama musim kemarau berlangsung.
Distribusi air bersih akan terus dilakukan hingga Oktober atau selama masih diperlukan, sehingga masyarakat di wilayah rawan kekeringan tetap memperoleh akses terhadap kebutuhan air bersih.
Dengan kombinasi penanganan darurat dan pembangunan infrastruktur jangka panjang, pemerintah berharap dampak kekeringan di Lamongan dapat diminimalkan sekaligus meningkatkan ketahanan air bagi masyarakat di masa mendatang. (rm)



