LAMONGAN – Ancaman genangan saat musim hujan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan. Tak ingin menunggu air meluap ke jalan dan permukiman, pemerintah daerah mulai membenahi saluran drainase melalui program Gempur Saloka (Gerakan Bersih Lumpur Saluran dalam Kota) 2026.
Tahun ini, program tersebut menyasar sejumlah saluran air di Kecamatan Babat dan Kecamatan Lamongan dengan total panjang penanganan sekitar 8 kilometer. Pembersihan dilakukan untuk mengangkat lumpur dan material yang berpotensi menghambat aliran air ketika curah hujan meningkat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan infrastruktur perkotaan menghadapi musim hujan, terutama di kawasan yang memiliki potensi genangan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, mengatakan Gempur Saloka merupakan langkah antisipasi yang dilakukan lebih awal agar fungsi saluran drainase tetap optimal.
“Gempur Saloka merupakan langkah nyata untuk memastikan saluran air tetap berfungsi dengan baik menjelang musim hujan. Kami ingin aliran air lebih lancar sehingga potensi genangan dapat diminimalkan, khususnya di wilayah perkotaan dan titik-titik rawan,” kata Erwin, Selasa (27/10/2026).
Pekerjaan di Babat rampung, Lamongan masih berproses
Pelaksanaan Gempur Saloka 2026 diawali di Kecamatan Babat pada 20 Juli hingga 29 Agustus 2026. Pekerjaan di wilayah tersebut kini telah rampung dengan capaian 100 persen.
Beberapa saluran yang menjadi sasaran penanganan meliputi Saluran Sawo, Saluran Bedahan, Saluran Plaosan, Tanggul Truni, hingga Saluran Sumurgenuk yang berada di depan RS Muhammadiyah Babat. Dalam prosesnya, sejumlah titik juga menggunakan bantuan alat berat untuk mempercepat pengerjaan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di Babat, Pemkab Lamongan melanjutkan program tersebut ke Kecamatan Lamongan mulai 31 Agustus 2026.
Namun, berbeda dengan Babat yang sudah tuntas, pengerjaan di wilayah Kecamatan Lamongan masih berlangsung. Hingga akhir Oktober 2026, progresnya tercatat mencapai 40 persen.
Sejumlah lokasi yang masuk dalam penanganan antara lain Saluran Mlaten-Kenduruan-Sidokumpul di kawasan Plaza Lamongan, saluran di depan Stasiun Lamongan, saluran di depan CPM, serta Saluran Pasar Sidoharjo-Kaliotik.
“Pekerjaan di Kecamatan Lamongan terus kami lanjutkan secara bertahap. Kami berharap seluruh saluran yang menjadi sasaran penanganan dapat berfungsi lebih optimal, sehingga mampu mendukung kelancaran aliran air saat hujan turun,” ujarnya.
Bukan hanya pemerintah, masyarakat juga punya peran
Pembenahan drainase tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko banjir. Kondisi saluran yang sudah dibersihkan tetap membutuhkan pemeliharaan agar tidak kembali dipenuhi sampah maupun endapan lumpur.
Karena itu, Pemkab Lamongan mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah ke selokan dan saluran air.
Erwin menegaskan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi infrastruktur drainase yang telah dibenahi pemerintah.
“Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air, serta menjaga kebersihan lingkungan agar aliran air tidak tersumbat. Dengan sinergi pemerintah dan masyarakat, potensi genangan saat hujan diharapkan dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Melalui Gempur Saloka 2026, Pemkab Lamongan berupaya memperkuat kesiapan saluran air menghadapi peningkatan intensitas hujan. Pekerjaan sepanjang sekitar 8 kilometer tersebut diharapkan menjadi salah satu penopang pengendalian genangan, sekaligus mengingatkan bahwa menjaga Lamongan dari ancaman banjir membutuhkan kerja bersama, bukan hanya saat musim hujan tiba.



