RONGGOHADI, LAMONGAN — Jangan pernah meremehkan kekuatan gotong royong warga Lamongan saat terdesak. Ketika banjir di kawasan Bengawan Jero tak kunjung “pamit” selama dua bulan, warga Dusun Watu, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, memutuskan untuk berhenti menunggu dan mulai membangun.
Bukan jembatan beton miliaran rupiah, melainkan sebuah “Jalan Layang Bambu” yang membentang gagah di atas genangan air. Ini bukan sekadar konstruksi sederhana; ini adalah monumen ketangguhan warga yang menolak menyerah pada keadaan!
Arsitektur Swadaya: Jembatan 70 Meter Hasil “Patungan” Hati
Sejak Selasa (27/1/2026), suasana di Dusun Watu mendadak sibuk. Suara bambu yang dibelah dan tawa warga yang bekerja bahu-membahu menjadi latar belakang pembangunan jalur alternatif ini. Dengan dana swadaya alias merogoh kocek pribadi, warga merangkai ribuan batang bambu menjadi jalur sepanjang 70 meter.
Spesifikasi “Skywalk” Bojoasri:
- Panjang: 70 Meter (Menghindari titik terdalam banjir).
- Lebar: ± 1 Meter (Pas untuk pejalan kaki & motor).
- Material: Bambu pilihan hasil rakitan tangan warga.
- Fungsi: Jalur ekonomi, akses sekolah, dan mobilitas darurat.
“Masyarakat Dusun Watu sudah terisolasi lebih dari 2 bulan. Kami tidak bisa keluar desa, aktivitas ekonomi mati, dan anak sekolah susah berangkat. Akhirnya kita buat jembatan alternatif ini supaya hidup bisa berjalan lagi,” ujar Mohammad Hasib, salah satu pelopor gerakan ini, Rabu (28/1/2026).
Dulu Menerjang, Kini Melenggang
Kehadiran jalan layang bambu ini disambut haru oleh warga lainnya. Zainal Abidin, warga setempat, mengaku sangat terbantu. Jika biasanya ia harus basah-basahan menerjang banjir setinggi paha untuk sekadar membeli kebutuhan pokok, kini ia bisa melintas dengan tenang, bahkan menggunakan sepeda motornya.
“Adanya jalan alternatif dari bambu ini, kita semua bisa beraktivitas normal lagi. Ini sangat membantu, terutama bagi kami yang setiap hari harus keluar masuk desa,” kata Zainal dengan lega.
Update Banjir: Air Mulai “Malu” dan Berangsur Surut
Di balik aksi heroik warga, ada kabar baik dari sisi teknis. Berdasarkan pantauan di Pheiskal Blawi, Tinggi Muka Air (TMA) dilaporkan mulai menunjukkan tren menurun.
Langkah Strategis Pemkab Lamongan:
- Optimalisasi Pintu Air Kuro: Air terus dibuang secara masif ke arah Bengawan Solo.
- Pompa Raksasa: Penggunaan sejumlah pompa berkapasitas besar untuk mempercepat pengosongan genangan di kawasan Bengawan Jero.
Kisah dari Bojoasri ini adalah definisi nyata dari istilah “Lamongan Megilan”. Di saat bencana mengunci ruang gerak, warga menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus menunggu birokrasi, tapi bisa lahir dari bambu dan tali persaudaraan. Jalan layang ini bukan hanya infrastruktur, tapi bukti bahwa kreativitas adalah pelampung terbaik saat banjir datang melanda. (rm)



