Thursday, June 11, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

HJL-457 Dimulai, Bupati Lamongan Ingatkan Bahaya Lunturnya Jati Diri Warga Lamongan di Tengah Gempuran Budaya Asing

RONGGOHADI, LAMONGAN – Peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-457 resmi dimulai. Namun tahun ini, suasana tidak hanya dipenuhi nuansa seremonial dan romantisme sejarah. Ada pesan kuat yang disampaikan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi: Lamongan sedang menghadapi ancaman serius berupa lunturnya jati diri masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya luar.

Pesan itu disampaikan saat rangkaian ziarah leluhur dan tabur bunga di makam para tokoh pendiri Lamongan digelar sejak Minggu (24/5) hingga Senin (25/5). Tradisi tahunan tersebut menjadi pembuka resmi peringatan HJL 457 yang tahun ini terasa lebih reflektif dan penuh makna.

Bukan sekadar ritual budaya, ziarah ke makam para leluhur disebut sebagai cara untuk “membangunkan ingatan kolektif” masyarakat Lamongan agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya sendiri.

“Kita terus membuat jati diri kita agar tidak berubah karena perubahan sosial, karena arus budaya asing, dan arus budaya lainnya,” tegas Bupati Lamongan.

Ziarah Leluhur Jadi Alarm Moral untuk Warga Lamongan

Rangkaian ziarah dilakukan di sejumlah makam tokoh penting yang tersebar di Kecamatan Paciran, Karangbinangun, Deket, Sugio, Turi, Maduran, Mantup, Glagah hingga pusat Kota Lamongan.

Puncaknya berlangsung di makam Mbah Lamong di Kelurahan Tumenggungan. Nama Mbah Lamong sendiri menjadi sosok penting dalam sejarah berdirinya Lamongan setelah diwisuda sebagai Adipati pertama oleh Sunan Prapen.

Dalam prosesi tersebut, Bupati Lamongan hadir bersama Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara dan jajaran Forkopimda.

Menurutnya, Hari Jadi Lamongan bukan hanya perayaan usia daerah, melainkan momentum untuk mengingat amanah kepemimpinan dan tanggung jawab sosial seluruh masyarakat.

“Kenapa harus kita peringati setiap tahunnya? Karena ini mengingatkan bahwa kita semua diberi amanah untuk memimpin, baik memimpin masyarakat, keluarga, maupun diri sendiri,” ujarnya.

Modernisasi Dinilai Mulai Menggerus Karakter Lokal

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin masif, Bupati Lamongan menilai masyarakat — terutama generasi muda — menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas budaya daerah.

Fenomena perubahan gaya hidup, pola komunikasi hingga cara berpikir masyarakat dinilai perlahan mulai mengikis karakter khas warga Lamongan yang selama ini dikenal santun, religius, dan menjunjung nilai gotong royong.

Peringatan HJL 457 pun dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kembali nilai budaya lokal agar tidak kalah oleh budaya instan yang datang dari luar.

“Siapapun kita punya tanggung jawab untuk menjadikan Lamongan semakin megilan, semakin jaya, dan membawa kesejukan serta kesejahteraan bagi warganya,” kata Bupati Lamongan.

HJL 457 Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Ajakan Pulang ke Akar Budaya

Di balik prosesi tabur bunga dan doa-doa yang dipanjatkan, ada pesan mendalam yang ingin diwariskan kepada generasi muda Lamongan: kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitasnya.

Tradisi ziarah leluhur yang terus dijaga hingga hari ini menjadi simbol bahwa Lamongan tidak ingin hanya dikenal sebagai daerah berkembang, tetapi juga daerah yang tetap kuat menjaga nilai sejarah dan budayanya.

Di era ketika tren viral dan budaya luar begitu mudah masuk lewat layar ponsel, Lamongan mencoba mengingatkan satu hal penting: modern boleh, maju wajib, tetapi akar budaya jangan sampai tercerabut.

Momentum HJL 457 akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga arah masa depan Lamongan agar tetap memiliki karakter, nilai, dan ruh budaya yang kuat. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles