Lamongan – Malam 1 Suro menjadi salah satu tradisi penting yang masih dijaga masyarakat Jawa sebagai momentum pergantian tahun sekaligus sarana introspeksi diri. Selain memiliki nilai budaya yang kuat, malam 1 Suro juga dimaknai sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) Kabupaten Lamongan, Pak Kiatarto, dalam dialog melalui sambungan telepon, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa terdapat dua konsep pergantian tahun yang sering dikenal, yakni Tahun Baru Hijriah berdasarkan kalender Islam dan Tahun Baru Jawa yang ditandai dengan malam 1 Suro.
“Sebagai umat Islam kita mengenal 1 Muharam sebagai tahun baru Hijriah. Sedangkan masyarakat Jawa juga memiliki perhitungan kalender Jawa yang menandai datangnya malam 1 Suro,” ujarnya.
Pak Kiat menjelaskan, malam 1 Suro dapat dipandang dari berbagai sudut. Namun secara umum, momen tersebut menjadi waktu yang tepat untuk bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan sekaligus melakukan evaluasi diri sebelum memasuki tahun yang baru.
“Yang terpenting adalah rasa syukur. Kita masih diberi kesehatan, rezeki, dan kesempatan hidup sampai hari ini. Itu yang harus kita renungkan dan syukuri,” katanya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, malam 1 Suro biasanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti selamatan, doa bersama, tirakatan, hingga penyajian tumpeng dan aneka hidangan yang dinikmati bersama masyarakat sekitar. Tradisi tersebut merupakan simbol kebersamaan sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, terdapat pula sebagian kelompok masyarakat yang melakukan tirakatan, puasa, atau siraman sebagai bentuk penyucian diri secara lahir dan batin. Bahkan di sejumlah daerah masih dijumpai tradisi jamasan atau pembersihan benda pusaka seperti keris dan tombak sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya leluhur.
Pak Kiat menegaskan bahwa berbagai tradisi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hal mistis, melainkan mengandung nilai filosofi untuk memperbaiki diri, meningkatkan kejujuran, serta mempersiapkan mental menghadapi kehidupan di masa mendatang.
Ia berharap generasi muda tidak melupakan budaya dan tradisi Jawa yang diwariskan para leluhur. Menurutnya, pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam menjaga identitas bangsa di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Mari kita syukuri apa yang telah diberikan Tuhan selama setahun terakhir dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Generasi muda harus mengenal budayanya sendiri agar tidak kehilangan jati diri,” pungkasnya.



