RONGGOHADI, LAMONGAN – Stadion Surajaya tak hanya menjadi tempat lahirnya para juara. Di lapangan hijau itu, ratusan mimpi anak-anak Lamongan mulai menemukan jalannya.
Sorak sorai orang tua, pelatih, dan suporter kecil menjadi saksi berakhirnya Liga Anak Megilan 2026, kompetisi sepak bola usia dini yang selama hampir tiga bulan menjadi panggung bagi calon-calon bintang masa depan.
Kompetisi yang mempertemukan kelompok usia U-10 dan U-12 tersebut resmi ditutup Rabu (8/7/2026) setelah bergulir sejak 13 April 2026. Lebih dari sekadar perebutan trofi, ajang ini menjadi bukti bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Lamongan kini mulai berjalan dengan arah yang semakin jelas.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan bahwa investasi terbesar dalam dunia olahraga bukan hanya membangun stadion megah, melainkan memberikan ruang kompetisi sejak usia dini.
“Alhamdulillah Liga Anak Megilan hari ini telah melahirkan para juaranya. Semangat dan sukses, mari terus berlatih, songsong prestasi yang lebih baik lagi untuk olahraga khususnya sepak bola di Kabupaten Lamongan,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes.
Kompetisi yang Melatih Mental, Bukan Sekadar Mencari Juara
Di balik setiap pertandingan, tersimpan pelajaran yang jauh lebih berharga dibanding skor akhir.
Anak-anak belajar tentang disiplin, kerja sama tim, menghargai lawan, hingga keberanian bangkit setelah mengalami kekalahan. Nilai-nilai itulah yang menurut Pak Yes menjadi fondasi penting bagi lahirnya atlet profesional di masa depan.
Ia optimistis kompetisi seperti Liga Anak Megilan mampu menjadi jalur pembinaan yang berkelanjutan sehingga semakin banyak talenta muda Lamongan yang memiliki kesempatan tampil di level lebih tinggi.
“Semakin banyak kejuaraan yang diselenggarakan, anak-anak akan semakin termotivasi untuk berlatih lebih rajin, lebih keras, dan menjadi pemain yang lebih baik,” katanya.
Lamongan Mulai Menata Masa Depan Sepak Bola dari Akar Rumput
Ketua Askab PSSI Lamongan, Edy Yunan Achmadi, menyebut keberhasilan penyelenggaraan liga ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Lamongan.
Menurutnya, pembinaan usia dini adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin baru terlihat beberapa tahun mendatang.
Ia berharap seluruh SSB di Lamongan terus konsisten melakukan pembinaan sehingga daerah ini mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas yang nantinya dapat memperkuat klub profesional hingga Tim Nasional Indonesia.
“Mudah-mudahan pembinaan ini terus berjalan sehingga muncul bibit-bibit unggul dari Lamongan yang mampu menjadi pemain profesional bahkan berprestasi di tingkat internasional,” ujarnya.
Persaingan Ketat, KFA Tampil Dominan
Sepanjang kompetisi, sebanyak tujuh Sekolah Sepak Bola (SSB) ikut ambil bagian, yakni:
- KFA
- Taruna Bahari
- Taka SS
- Surya Indah
- NDPS SS
- Narayana
- Akademi Persela
Persaingan berlangsung sengit hingga laga terakhir.
Untuk kategori U-10, hasil akhir menunjukkan:
🥇 Juara 1: KFA
🥈 Juara 2: Narayana
🥉 Juara 3: NDPS SS
Sementara kategori U-12 menghasilkan:
🥇 Juara 1: KFA
🥈 Juara 2: Narayana
🥉 Juara 3: Akademi Persela
Keberhasilan KFA mendominasi dua kelompok usia menunjukkan konsistensi pembinaan yang dilakukan sejak usia dini.
Dari Lapangan Kecil Menuju Stadion Besar
Sepak bola Indonesia selalu membutuhkan regenerasi.
Dan regenerasi tidak lahir secara instan.
Ia tumbuh dari kompetisi-kompetisi kecil yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bermimpi, belajar, gagal, bangkit, lalu berkembang menjadi pemain yang matang.
Liga Anak Megilan 2026 menjadi bukti bahwa Lamongan tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah pecinta sepak bola melalui Persela semata, tetapi juga sebagai daerah yang serius membangun fondasi olahraga dari usia dini.
Siapa tahu, beberapa tahun mendatang, nama-nama yang hari ini masih mengenakan jersey SSB akan berdiri gagah membela Persela, klub-klub Liga 1, bahkan mengibarkan Merah Putih bersama Tim Nasional Indonesia. Dan ketika hari itu tiba, semuanya akan kembali dikenang bermula dari sebuah kompetisi sederhana bernama Liga Anak Megilan. (rm)



