Saturday, September 12, 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menembus Batas Bencana, Dokter Ortopedi Surabaya Operasi 19 Korban Gempa di Flores

LAMONGAN, RONGGOHADI – Di tengah rumah-rumah yang belum sepenuhnya pulih dan warga yang masih memilih tidur di tenda, bantuan datang bukan hanya dalam bentuk logistik. Di antara suara aktivitas pengungsian, ada tim medis yang bekerja menangani satu per satu korban dengan luka yang membutuhkan pertolongan segera.

Salah satunya adalah dr. Aries Rakhmat Hidayat, Sp.OT, dokter spesialis ortopedi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang bersama tim medis diterjunkan ke wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu korban terdampak gempa.

Dokter Aries datang bersama tim yang terdiri dari dokter spesialis ortopedi, dokter spesialis anestesi, perawat anestesi, perawat instrumen, hingga tenaga medis lainnya. Mereka bergabung dalam misi bantuan medis bagi masyarakat yang terdampak bencana di Pulau Flores.

Bagi tim ini, kondisi lapangan membuat pelayanan kesehatan harus dilakukan dengan cara yang berbeda.

Sejumlah fasilitas kesehatan terdampak dan membutuhkan penyesuaian. RSUD Ruteng yang selama ini menjadi lokasi pelayanan juga secara bertahap akan dialihkan ke rumah sakit lapangan yang berada di kawasan Bandara Ruteng dengan dukungan Kementerian Kesehatan.

“Sehari-harinya kami di RSUD Ruteng. Karena bangunannya sudah tidak layak, secara bertahap akan pindah ke rumah sakit lapangan di Bandara Ruteng,” ujar dr. Aries saat berbincang dengan Radio Ronggohadi.

19 Korban Jalani Operasi

Bukan perkara ringan. Korban yang datang membutuhkan penanganan akibat cedera dan patah tulang setelah bencana.

Dr. Aries sendiri merupakan bagian dari tim gelombang kedua yang bekerja secara bergantian bersama tim medis lainnya. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu terakhir, timnya telah melakukan operasi terhadap 19 pasien dengan kasus cedera tulang.

Beragam tindakan dilakukan sesuai kondisi masing-masing pasien. Mulai dari pemasangan plat, implant, wire, hingga tindakan menggunakan gips.

Beberapa pasien bahkan telah menjalani kontrol pascaoperasi dan menunjukkan kondisi yang cukup baik.

“Total dari minggu lalu sampai minggu ini kami sudah operasi sebanyak 19 pasien. Ada yang kami pasang plat, implant, wire, ada juga yang dipasang gips. Beberapa sudah kontrol dan kondisinya baik,” jelasnya.

Angka tersebut memang hanya deretan hitungan. Namun bagi setiap pasien, satu operasi berarti kesempatan untuk kembali menggerakkan tubuh, kembali bekerja, kembali beraktivitas, dan perlahan kembali menjalani kehidupan setelah bencana.

Luka Tak Selalu Terlihat

Namun pekerjaan tim medis di wilayah bencana tidak berhenti pada penanganan luka fisik.

Dr. Aries menyadari, gempa meninggalkan persoalan lain yang tak selalu terlihat oleh mata: trauma psikologis.

Terlebih gempa terjadi pada waktu subuh. Situasi tersebut membuat sebagian warga mengalami ketakutan setiap kali merasakan getaran, termasuk ketika terjadi gempa susulan dengan skala yang lebih kecil.

“Secara psikologis berdampak buat mereka karena traumatis sekali,” ungkapnya.

Kondisi itu bahkan membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah. Mereka masih memilih bertahan di tenda yang didirikan di depan rumah maupun lokasi pengungsian.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup rentan mengalami trauma.

Karena itu, menurut dr. Aries, setelah masa tanggap darurat berakhir, penanganan diharapkan tidak hanya berfokus pada korban dengan luka fisik. Dokter rehabilitasi, psikolog, hingga psikiatri dibutuhkan untuk membantu proses pemulihan jangka panjang.

“Ini kemungkinan selanjutnya setelah masa tanggap berakhir akan dilanjutkan mungkin dokter psikiatri, psikolog, dokter rehab untuk melakukan pemulihan,” katanya.

Dari Surabaya untuk Flores

Misi tersebut menjadi gambaran bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja bersama dan waktu yang tidak sebentar.

Ketika sebagian orang memilih menjauh dari wilayah terdampak, para tenaga medis justru bergerak mendekat. Mereka membawa keahlian, peralatan dan tenaga untuk membantu warga yang membutuhkan.

Bagi dr. Aries, keberadaan tim medis di tengah masyarakat terdampak bukan semata tentang tindakan medis. Ada harapan yang ingin dititipkan: agar korban tidak merasa menghadapi bencana seorang diri.

“Semoga bisa memberi manfaat. Mereka selain mengalami trauma secara fisik, juga secara psikologis. Paling tidak kita meringankan beban mereka,” ujarnya.

Dari ruang operasi hingga tenda pengungsian, perjuangan pemulihan korban gempa di Flores masih panjang. Dan di tengah proses tersebut, solidaritas lintas daerah menjadi salah satu kekuatan penting untuk membantu masyarakat kembali berdiri. (rm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles